Tenda Dome Kapasitas 4 orang
Tenda dome menjadi pilihan ideal untuk camping di alam terbuka. Bentuknya yang kokoh dan mudah dipasang memberi rasa aman dari angin dan hujan, sekaligus nyaman untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas. Di dalam tenda dome, malam camping terasa lebih hangat, tenang, dan penuh cerita.
Tenda Kompi kapasitas 20 orang
Tenda kompi dirancang untuk menampung banyak orang, kokoh dan fungsional untuk kegiatan camping bersama. Cocok untuk kebersamaan, koordinasi, dan istirahat, tenda ini menjadi pusat aktivitas sekaligus tempat berlindung yang aman di alam terbuka.
Taman di Asilo ini dihadirkan sebagai ruang kebersamaan tempat sederhana namun bermakna, di mana siapa pun dapat berhenti sejenak, menikmati keindahan alam, berbagi cerita, dan menumbuhkan rasa persaudaraan. Di tengah keseharian yang padat, taman ini menjadi oase untuk beristirahat, bersyukur, dan merasakan damai bersama.
Lamban Simah Ati bukan sekadar bangunan, melainkan ruang kebersamaan yang menjunjung tinggi nilai keterbukaan, keramahan, dan ketulusan hati. Sesuai maknanya, Lamban Simah Ati menjadi tempat di mana setiap orang diterima apa adanya, diajak untuk duduk bersama, berbagi rasa, dan menumbuhkan persaudaraan. Di sinilah semangat saling menghormati dan hidup rukun dirawat, demi membangun kebersamaan yang hangat dan bermakna.
Kolam ikan dan gazebo menghadirkan suasana tenang dan menyejukkan. Aliran air, gerak ikan, dan teduhnya gazebo mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak, menikmati keheningan, dan merasakan damai. Tempat ini menjadi ruang sederhana untuk beristirahat, berbincang, atau merenung bersama, sambil mensyukuri keindahan dan kebersamaan yang dianugerahkan.
Camping ground menjadi ruang kebersamaan di alam terbuka, tempat belajar hidup sederhana dan saling menguatkan. Di hamparan alam ini, tenda didirikan, cerita dibagikan, dan persaudaraan dipererat. Camping ground bukan sekadar tempat berkemah, melainkan ruang untuk merasakan kebebasan, kebersamaan, dan syukur atas keindahan alam yang menyatukan.
Di tengah keheningan alam dan semangat pelayanan yang telah bertumbuh, kini direncanakan pembangunan 50 camping ground sebagai ruang perjumpaan yang lebih luas dengan alam dan sesama. Tempat ini bukan sekadar lahan untuk mendirikan tenda, melainkan ruang pembinaan karakter, persaudaraan, dan permenungan.
Lima puluh titik itu melambangkan keterbukaan—bahwa siapa pun boleh datang, belajar, beristirahat, dan menemukan kembali arah hidupnya. Di bawah langit yang sama, di antara api unggun dan doa malam, generasi muda akan belajar tentang kesederhanaan, tanggung jawab, serta rasa syukur.
Camping ground ini diharapkan menjadi jembatan antara manusia dan ciptaan, antara aktivitas dan refleksi, antara perjalanan fisik dan perjalanan batin.
Panggung terbuka menjadi ruang ekspresi dan kebersamaan, tempat suara, karya, dan sukacita dibagikan tanpa sekat. Di bawah langit terbuka, setiap orang diberi ruang untuk tampil, menyampaikan pesan, dan merayakan kebersamaan. Panggung terbuka bukan hanya tempat pertunjukan, tetapi wadah perjumpaan yang hidup, hangat, dan penuh makna.
Lapangan rumput menjadi ruang terbuka untuk bergerak, bermain, dan membangun kebersamaan. Di atas hamparan hijau ini, tawa, semangat, dan keakraban tumbuh secara alami. Lapangan rumput dapat digunakan untuk berbagai kegiatan seperti olahraga, permainan bersama, upacara, pertemuan komunitas, hingga acara kebersamaan dan rekreasi. Bukan sekadar area aktivitas, lapangan ini menjadi tempat yang menyatukan orang-orang dalam sukacita, kesehatan, dan persaudaraan.
Embung hadir sebagai sumber kehidupan sekaligus ruang ketenangan. Genangan air yang terjaga ini tidak hanya berfungsi menampung air, tetapi juga menjadi tempat untuk menikmati keindahan alam dan menenangkan hati. Embung dapat dimanfaatkan untuk konservasi air, edukasi lingkungan, refleksi, serta kegiatan kebersamaan yang selaras dengan alam. Di sekitarnya, orang diajak belajar merawat ciptaan dan mensyukuri anugerah kehidupan.
Embung tidak hanya menjadi penampung air di musim hujan dan cadangan kehidupan di musim kemarau. Ia juga diolah dengan bijak sebagai kolam budidaya ikan—patin, nila, gurame, dan berbagai jenis lainnya. Di permukaannya yang tenang, riak kecil menjadi tanda bahwa air tak pernah benar-benar diam; ia menghidupi.
Di tepian dan permukaannya, ditanam pula kangkung air yang tumbuh merambat segar, serta teratai putih yang mekar perlahan di atas air. Hijau daun dan putih bunga berpadu, menjadikan embung bukan hanya sumber pangan, tetapi juga ruang keindahan.
Dari embung, bukan hanya air yang dibagikan, tetapi juga harapan. Ikan-ikan tumbuh, tanaman berkembang, ekonomi warga bergerak, dan kebersamaan tercipta saat panen tiba. Embung pun berubah makna: dari sekadar genangan, menjadi sumber rezeki, keseimbangan, dan kehidupan bagi masyarakat sekitar.